Selasa, 29 Maret 2022

KULTUR SEKOLAH

Nama : Sari murtini
NIM : 12001308
KELAS : 4G PAI
MAKUL : Magang 1


                     KULTUR SEKOLAH

 Apa itu kultur sekolah ?, Menurut pemahaman singkat saya , Kultur sekolah itu adalah suatu budaya sekolah yang menjadi ciri dan nilai unggul untuk sekolah itu. Istilah kultur dapat diartikan sebagai keseluruhan perilaku,kesenian,kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang dikirim bersama, atau dalam artian lain kultur itu sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan sebagai warga suatu masyarakat. Jadi, kultur sekolah itu merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan dapat diambil contoh yang baiknya dan dapat teruji pula dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.
  Dalam karakteristik kultur sekolah, Kultur Sekolah merupakan budaya sekolah yang dapat memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat sekolah baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif sebagaimana karakteristik kultur tersebut. Dalam Kultur positif itu adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warganya atau para orang-orang disekitaran sekolah. Aktivitas-aktivitas siswa dalam kesehariannya tidak akan lepas dari keterlibatan kultur sekolah pada proses bersikap, berbuat dan memandang bahkan berfikirnya. Mutu kehidupan siswa yang diharapkan adalah siswa yang memiliki prilaku baik dalam sudut pandang etika dan agama , seperti contoh dalam agama,sebelum pelajaran dimulai para peserta didik itu diajarkan untuk berdoa terlebih dahulu sebelum pelajaran dimulai dan begitu pun setelah pelajaran selesai. Kultur positif ini akan memberi peluang sekolah beserta warganya untuk membentuk dan meningkatkan kemampuan dan kecerdasan spiritual untuk para siswanya.
Contoh Kultur Positif di sekolah:
√ Warga sekolah memiliki keyakinan hanya mereka yang belajar keras dan sungguh-sungguh yang akan memperoleh prestasi yang tinggi.
√ teguh bahwa prestasi dan proses mencapainya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan
√ Menjunjung tinggi nilai-nilai religius, norma sosial, etika dan moral
√ Membangun jembatan antara visi, misi, dan aksi
√ Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki kinerja dan etos kerja yang baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di sekolah
√ Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki spirit corp dan team workyang tinggi
√ Komitmen seluruh warga sekolah (Kepala Sekolah, Pendidik dan Tenaga kependidikan) untuk selalu belajar (belajar sepanjang hayat)
√ Menghargai prestasi siswa
√ Memiliki simbol-simbol yang menekankan penghargaan dan sangsi, sehingga mendorong pencapaian prestasi dan menghambat pelanggaran dan tidak memiliki prestasi
√ Lingkungan sekolah yang bersih, rapi, sejuk, dan aman.

   Lalu kita akan membahas dalam kultur negatif pula , kultur negatif ini adalah budaya yang bersifat anarkis, negatif, atau bisa kita sebut beracun, maksudnya ialah sekolah yang hanya melihat dan menargetkan hasil pendidikan yang berupa kemampuan intelegensi siswanya saja dan mengabaikan dimensi spiritaual siswa , karena mereka cenderung tidak melakukan upaya yang mengarah kepada terbentuk dan berkembangnya kecerdasan spiritual siswa,malah ia akan mengarah pada sebaliknya. Kultur sekolah yang seperti akan bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik atau masalah tertentu,baik dalam bidang pembelajaran dan itu akan berpengaruh Sekali kepada pada anak-anak didik , jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah kelak.

Contoh Kultur Negatif di sekolah:
√ Siswa itu akan memiliki keyakinan belajar asal-asalan apa adanya yang pasti naik kelas dan lulus.
√ Siswa ingin meraih prestasi yang setinggi-tingginya dengan segala cara untuk mencapainya, sekalipun melanggar norma dan nilai (misalnya : Nyontek, bekerja sama dalam ulangan, plagiat dalam membuat tugas, dsb.).
√ Siswa tidak antusias menerima tugas karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak.
√ Siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR karena mereka yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan naik kelas dan lulus mendapatkan ijazah. Ijazah dianggap sebagai sesuatu yang penting, tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai.
√ Siswa malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik, tidak antusias dalam mengajar, dan tidak menguasai materi.
√ Hasil karya siswa dan prestasi sekolah tidak dipajang sebagaimana mestinnya yaitu sebagai suatu kebanggaan yang dapat memberikan motivasi untuk yang lainnya.
√ Guru sering melecehkan siswa dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. Oleh karena itu, sebagai balasannyasiswa tidak menghargai guru.
√ Sekolah tidak disiplin dalam melaksanakan proses belajar mengajar dan menyalahkan siswa atas prestasinya.
√ Kebijakan kepala sekolah bersifat pilih kasih.
√ Menghindari kolaborasi dan selalu ada pertentangan.
√ Mereka yang innovatif malah di kritik dan tidak disenangi.
√ Diktator, komentator, Agitator, Spektator.
√ Diantara warga sekolah tidak ada saling percaya dan selalu mencari kesalahan orang lain.
√ Banyak siswa dan guru yang terlambat datang ke sekolah.
√ Lingkungan sekolah yang kotor, membuang sampah tidak pada tempatnya.

   Kultur sekolah merupakan hal-hal yang sifatnya historis dari berbagai tata hubungan yang ada dan hal-hal tersebut telah diinternalisasikan oleh warga sekolah. Sedangkan iklim sekolah berada di permukaan dan berisi persepsi warga sekolah terhadap aneka tata hubungan yang ada saat ini.
Kultur sekolah memiliki tiga lapisan kultur yaitu:
a) Artifak di permukaan
Artifak adalah merupakan lapisan kultur sekolah yang paling mudah diamati, seperti misalnya aneka ritual sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, benda-benda simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah.
b) Nilai-nilai dan keyakinan di tengah
Lapisan yang lebih dalam berupa nilai-nilai dan keyakinan yang ada di sekolah. Sebagian berupa norma-norma perilaku yang diinginkan sekolah, seperti slogan-slogan rajin pangkal pandai, air beriak tanda tak dalam, menjadi orang penting itu baik tetapi lebih penting menjadi orang baik, hormati orang lain jika anda ingin dihormati.
c) Asumsi yang berada di lapisan dasar.
Lapisan yang paling dalam adalah asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol, nilai-nilai dan keyakinan yang tak dapat dikenali tetapi berdampak pada perilaku warga sekolah, seperti misalnya:
1. Kerja keras akan berhasil
2. Sekolah bermutu adalah hasil kerja sama sekolah dan masyarakat, dan
3. Harmoni hubungan antar warga adalah modal bagi kemajuan.

    Jadi dapat saya simpulkan bahwa ,kultur sekolah itu sangat berpengaruh besar terhadap sekolah,semakin buruknya kultur sekolah yang dikembangkan akan berpengaruh besar pula terhadap para warga sekolah tersebut terutama untuk para peserta didiknya. Namun apabila kultur sekolah itu dikembangkan dengan baik maka akan berpengaruh ke dalam nilai positif la sekolah itu, dan juga dapat membawa bekal sekolah yang bermutu untuk kedepannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERANGKAT PEMBELAJARAN

Nama : Sari Murtini NIM : 12001308 Kelas : 4G PAI Makul : Magang 1                 Perangkat Pembelajaran      Minggu ini saya akan me...